(024) 76601186 umroh@syakirawisata.com

Melontar Jumrah (Ramyu Al-Jumrah) adalah salah satu Ibadah Wajib dalam Pelaksanaan Ibadah Haji. Sebagai Wajib haji, maka melontar jumrah merupakan pelengkap dari ibadah rukun Haji. Jika ditinggalkan haji nya tetap sah, namun tetap harus membayar dam. Melontar jumrah adalah simbol perlawanan kita terhadap setan. Tentu saja ibadah ini tidak bisa sembaranagn dilakukan, harus diketahui Tata Caranya.

Baca : 4 Jenis Dam Haji dan Umroh

 

Melontar Jumrah

 

Ketika jemaah haji bertolak dari Muzdalifah menuju Mina, mereka mengumpulkan tujuh batu kerikil untuk melontar jumrah Aqabah. Batu kerikil itu boleh diambil di Muzdalifah atau di jalan menuju Mina. Ukuran setiap kerikil hendaknya sebesar ujung jari tengah atau seukuran biji kurma. Ketika mereka sudah sampai di Mina, mereka melontar jumrah Aqabah yang letaknya terakhir dan lebih dekat dengan Mekkah.

 

Baca : Ternyata Makna Melempar Jumrah bukanlah Melempar Setan

Tujuh kerikil itu dilempar satu per satu dengan mengangkat kedua tangan setiap kali melempar sambil berucap: “Allahu Akbar.” Setiap kerikil yang dilempar harus dipastikan masuk ke sumur jumrah (lubang yang mengelilingi tiang jamarat) baik kerikil itu tetap berada di dalam atau terpantul keluar lagi. Tidak diwajibkan untuk membenturkan kerikil itu tepat ke tiang.

Waktu melempar jumrah Aqabah dimulai pada tengah malam kesepuluh hingga terbenam matahari pada 10 Dzulhijjah. Jemaah haji yang daya tahan fisiknya kuat, lebih utama melontar jumrah setelah terbit matahari pada hari tersebut.

 

jumroh aqabah

 

 

Hari-hari Tasyrik (Ayyam Al-Tasyrik) dan Perbuatan yang Dilakukan pada Hari Tersebut

 

Hari-hari tasyrik adalah hari ke-11, ke-12, dan ke-13 pada bulan Dzulhijjah, Diwajibkan atas orang yang berhaji untuk melakukan dua hal pada hari-hari tersebut, yaitu:

  1. Bermalam dan menetap di Mina sepanjang malam pada hari-hari tersebut, karena bermalam di Mina merupakan bagian dari kewajiban-kewajiban dalam haji.
  2. Melempar tiga jumrah (‘Ula, Wustha, dan Aqabah) pada hari-hari tasyrik setelah lungsur matahari. Selama berada di Mina, shalat dilakukan dengan meringkas (qasar) menjadi dua rakaat pada waktunya masing-masing dan tidak boleh mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu (jamak).

 

Cara Pelaksanaan Melontar Tiga Jumrah

 

 

Pada tanggal 11 Dzulhijjah, apabila posisi matahari sudah di sebelah barat dari tengah langit atau sekitar jam 12.00, para jemaah haji hendaknya mulai bergerak menuju jumrah pertama (jumrah ula) yang posisinya paling dekat dengan Mina. Mereka hendaknya membawa 21 kerikil yang dikumpulkan di Mina atau didapat di jalanan. Ketika sampai di jumrah ula, mereka melontar tujuh kerikil satu per satu. Setiap kali melontar satu kerikil, diiringi dengan ucapan takbir.

Setelah melontar, hendaknya bergeser dari (sumur) jumrah pertama kemudian berdoa apa saja yang diinginkan. Jika tidak bisa berdiam lama untuk berdoa, sebaiknya berdoa dengan doa pendek saja yang penting tetap dapat melakukan apa yang disunahkan.

 

lempar jumroh

 

 

Kemudian jemaah haji bergerak menuju jumrah kedua (jumrah wustha) untuk melakukan hal yang sama ketika berada di jumrah pertama. Ketika sampai di depan jumrah kedua, jemaah haji melontar tujuh kerikil satu per satu. Setiap lontaran satu kerikil diiringi dengan ucapan takbir. Selesai melontar, hendaknya bergerak ke arah kiri dan berdiri untuk berdoa dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat. Jika memungkinkan, hendaknya berdoa dengan doa yang panjang, namun jika tidak mungkin, maka jemaah cukup berdoa yang pendek saja.

Berdiri untuk berdoa jangan sampai ditinggalkan, karena itu bagian dari sunah. Banyak orang yang meninggalkannya karena tidak tahu atau sembrono. Ketika sunah ditinggalkan oleh banyak orang, kemudian hal itu menjadi sangat dianjurkan untuk dilakukan dan disebarkan.

 

Baca : Menata Jamarat, Menata Tempat “Melempar Setan”

Selesai dari jumrah kedua, jemaah haji bergerak ke jumrah Aqabah (jumrah terakhir) dan melontar tujuh kerikil satu per satu. Setiap lontaran diiringi dengan ucapan takbir. Setelah selesai, jemaah haji bergegas meninggalkannya dan tidak perlu berdoa.

Pada tanggal 12 Dzulhijjah dan 13 Dhulhijjah, jemaah haji melakukan hal sama dengan apa yang di lakukan di hari kesebelas (11 Dzulhijjah), semua dilakukan setelah turunnya (tergelincirnya) matahari.

 

Tabel Jumlah Batu Kerikil Yang di Butuhkan

 

Tanggal

Aqabah Ula Wustha

Jumlah Kerikil

10 Dzulhijjah

7 kali 7 butir

11 Dzulhijjah

7 kali

7  kali 7 kali

21 butir

12 Dzulhijjah 7 kali 7 Kali 7 Kali

21 Butir

Jamaah Nafar Awal (Meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah)

49 Butir

13 Dzulhijjah

7 kali 7 Kali 7 Kali

21 Butir

Jamaah Nafar Tsani (Meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah)

70 Butir