Ulah Pasukan Gajah di Kota Mekkah Al Mukarramah

Serangan terhadap Ka’bah di kota Mekkah Al Mukarramah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Kala itu sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerbu Mekkah Al Mukarramah dan dengan satu niat yakini menghancurkan Ka’bah

Negeri Yaman kala itu merupakan negeri Kristen yang besar. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshah. Gereja itu bernama Qullais. Sebagai pemuka gereja Abrahah bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab (beribadah haji) dari Ka’bah di kota MAKKAH  AL MUKARRAMAH ke gereja nya di Yaman

Alkisah, mendengar rencana serakah Abrahah, seorang bangsa Arab dari qabilah Bani Faqim bin Addiy merasa amat tersinggung,  kemudian mengendap dan menelusup ke dalam gereja serta membuang hajat di dalamnya. Mendapat laporan tersebut Abrahah marah luar biasa dan bersumpah akan menghancurkan ka’bah yang ada di kota Mekkah Al Mukarramah rata dengan tanah. Berangkatlah dia beserta tentara pasukan gajah terkuatnya menunggang sekira 60.000 binatang gajah yang kuat.

Abrahah memimpin pasukan gajah di bagian depan, mengendarai gajah yang terbesar yang ia beri nama Mahmud. Seolah dengan penuh kesombongan ia ingin menunjukkan bahwa bangunan Ka’bah akan hancur hanya dengan satu gerakan kecil sang gajah.

Tiba di  daerah Al-Muhammis, Abrahah mengutus Al-Aswad bin Maqsud dan pasukan kuda nya terus merangsek hingga tiba di Mekkah Al  Mukarramah. Dia meminta kekayaan milik orang-orang bangsa Arab terutama suku Quraisy diserahkan kepadanya, teramsuk  di dalamnya 200 ekor unta milik Abdul Muththalib, Kakek Rasulullah Muhammad SAW.

Kala itu,  Kakek Nabi Abdul Muththalib merupakan tokoh dan pemimpin yang disegani oleh orang-orang Quraisy. Karena perampasan tersebut, suku Quraisy dan semua pihak yang berada di Mekkah Al Mukarramah sangat ingin memerangi Abrahah. Namun apa daya karena kekuatan Abrahah dengan pasukan gajah yang begitu besar, tidak sanggup menghadapinya, mereka mengurungkan maksud tersebut.

Tidak ada satu kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menanndingi kekuatan puluhan ribu tentara pasukan gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Rasulullah SAW, Abdul Muthalib, para penduduk Mekkah mengungsi ke puncak bukit di sekeliling KA’BAH. Hal ini dikarenakan agar tidak terjadi pertumpahan darah yang tidak seimbang.

Abdul Muththalib berkata kepada Hanathah (utusan Abrahah), “Demi Allah, kami  (kaum Quraisy) tidak  ada maksud untuk berperang dengan mu, karena kami tak memiliki daya dan kekuatan untuk itu.  Rumah ini (Ka’bah) adalah Rumah Allah yang suci dan rumah kekasih-Nya, Ibrahim AS. Jika Allah melindunginya (Ka’bah), itu karena Ka’bah merupakan Rumah-NYA dan rumah suci milik ALLAH. Jika Allah tak melindunginya, demi Allah, kami tak mempunyai kemampuan untuk melindunginya.

Kepada Abdul Muthalib melalui penerjemahnya Abrahah berucap, ”Apakah  keperluanmu??”. Abdul Muththalib pun memberikan jawaban diluar dugaannya, “Keperluanku hanya untuk  meminta raja Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang dirampas raja dariku.”

Usai penerjemah Abrahah menterjemahkan kata Abdul Muththalib kepada nya, Abrahah kembali mengatakan kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya (Abdul Muthalib), ‘Sesungguhnya Abrahah amat kagum kepadamu ketika dia melihatmu. Apakah engkau hanya membicarakan 200 ekor unta yang raja rampas darimu dan engkau meninggalkan Rumah yang tiada lain adalah agamamu dan agama leluhur (nenek moyang) mu, padahal kami datang untuk menghancurkannya dan Kau tidak sedikitpun menyinggung (menghalangi) nya?’

Abdul Muththalib melanjutkan perkataan nya,  kepada Raja Abrahah ia berucap dengan penuh kemantaban seorang pemimpin kaum yang disegani, “200 unta  yang kau rampas, adalah milikku, kembalikan Padaku, dan rumah tersebut (ka’bah) mempunyai Pemilik yang akan melindunginya.’

Abrahah dengan sombong berkata, “Kamu tak pantas menghalang-halangiku.” Abdul  Muththalib berujar, “Itu terserah antara engkau (abrahah) dengan-NYA.”

Keesokan harinya,  dengan kebulatan tekad menghancurkan Ka’bah Abrahah memobilisir pasukan gajah yang terdiri dari tentara terbaik beserta gajah – gajah nya. Saat Nufail bin Habib (tawanan Raja Abrahah, karena berusaha berperang dengan nya saat Abrahah akan menyerang Ka’bah). Ia membisikian di telinga Mahmud (gajah Abrahah) “Duduklah engkau Mahmud, atau pulanglah dengan tenang ke tempatmu yang semula, karena sesungguhnya kau sedang berada di tanah haram!”

Lalu Naufal bin Habib meninggalkan pasukan Abrahah untuk beranjak ke gunung sebagaimana diperintahkan Abdul Muthalib.  Anehnya Mahmud pun tidak mau beranjkan. Pasukan Abrahah mengharidik Mahmud agar mau berdiri, namun gajah itu tetap tak mau bangkit.

Berbagai cara pun dilakukan, dengan memukul –mukulkan kapak tajam ke kepala Mahmud, dan memasukkan tongkat ke belalainya. Namun apa hendak dikata, Mahmud tetap tak mau beranjak. Ketika pasukan membelokkan mahmud kembali ke Yaman, gajah itu mau berlari cepat. Namun ketika diarahkan ke arah Mekah untuk menghancurkan ka’bah Mahmud pun serta merta akan terduduk.

Laju abrahah dan pasukan gajahnya pun terhenti karena serangan dari ribuan burung Ababil (sejenis burung Hug). Burung kecil yang memiliki ukuran tak seberapa bila dibandingkan dengan seekor gajah. Mereka membawa tiga butir batu panas di kedua kaki dan paruhnya dan melepaskannya diatas tentara gajah. Batu yang konon “hadiah” yang diambil langsung dari neraka ini menembus daging para tentara pasukan gajah dan membuatnya binasa seketika.

Tentara yang tidak terkena batu lari tunggang – langgang, berebut serta mencari cari Nufail bin Habib. Mereka bermaksud agar ia bersedia menunjukkan jalan pulang ke arah Yaman.

Allah SWT mengabadikan peristiwa di tahun gajah ini dalam sebuah surah Al Qur’an

pasukan gajah

 

Pasukan Gajah
Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!