(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Mendengarkan panggilan suara Adzan dari Muadzin dan menegakkan shalat langsung dari Masjidil Haram merupakan keinginan semua umat Muslim di seluruh dunia. Adzan secara bahasa berarti pemberitahuan atau seruan, yang secara istilah berarti seruan yang menandai masuknya waktu shalat.

masjidil-haram

Adzan atau panggilan sholat memang memiliki irama atau suara yang unik, tak terkecuali di Masjidil Haram.  Metode adzan khas dari masjid terbesar di dunia yang terletak di kota suci Makkah Al Mukarramah ini telah menjadi rujukan cara beradzan seluruh masjid di belahan dunia. Karakteristik yang paling menonjol dan sekaligus menjadi atribut dari adzan di masjid ini adalah irama sang Bilal yang mendayu-dayu.

Salah satu Muadzin yang terkenal dan paling legendaris di Masjidil Haram adalah suara adzan yang dilantunkan oleh Syekh Ali Abdul Rahman Ahmed Mulla, atau dipanggil dengan Ali Ahmed Mulla.  Suara adzan yang dilantukan oleh Beliau sering kita dengarkan dengan sangat merdu di Televisi, maupun radio. Sekedar mengingatkan, inilah suara Muadzin Ali Ahmed Mulla saat melantunkan adzan.

 

Syekh Ali Ahmed Mulla lahir di Mekah, 5 Juli 1945. Ia terlahir dari seorang ayah yang bernama Abdul Rahman Mulla, seorang Muadzin yang juga terkenal di Saudi. Banyak yang telah mewarisi adzan di Masjidil Haram secara turun – temurun. Syekh Ali Abdul Rahman Ahmed Mulla sendiri sering diajak oleh ayahnya sejak masih anak-anak. Ia diangkat menjadi muadzin sejak usia 14 tahun, dan telah melakoni “karir” nya sepanjang 35 tahun.

Dalam wawancara singkat kami dengan beliau pada pertengahan tahun 2015 yang lalu, Beliau menceritakan awal mula perjalanan kisahnya menjadi muadzin di Masjidil Haram. Dahulu era perkembangan tekhnologi pengeras suara belum berkembang, adzan dikumandangkan oleh tujuh orang yang masing masing menaiki menara Masjidil Haram yang saat itu berjumlah tujuh buah.

syekh-ali-ahmed-mulla

Suara adzan pertama – tama dikumandangkan oleh muadzin yang berada di Al-Shafie Maqam, dekat Sumur Zamzam. Lalu setiap Bilal mengulangi apa yang dikumandangkan oleh muadzin pertama seterusnya hingga adzan selesai. Tradisi ini dimulai sejak jaman Ottoman.

 Singkatnya, Bilal atau Muadzin untuk mengumandangkan adzan harus menaiki menara masjid. “Sejak usia 14 tahun, saya naik menara masjid untuk adzan. Dahulu jumlahnya 7 yang menaiki tujuh menara Masjidil Haram. Dahulu masjidil haram memiliki 24 orang Bilal yang bertugas di Masjidil Haram dan menambah 6 orang Muadzin apabila musim Ramadhan tiba” ujarnya.

Muadzin

Dikutip dalam lama wikipedia, Setelah lulus dari Institut Pendidikan Teknik di Riyadh Saudi Arabia pada tahun 1970, Syakh Ahmad Mulla bekerja sebagai guru di Sekolah Menengah Abdullah ibn Zubair. Ditahun yang sama Ia secara resmi ditunjuk sebagai petugas di Masjidil Haram. Pada sebuah kesempatan, Ia juga pernah mendapatkan kehormatan untuk mengumandangkan adzan di Masjid Nabawi, Madinah.

 

Muadzin Masjidil Haram
Be Sociable, Share!