(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Kira – Kira satu kilometer arah barat daya dari Masjid Nabawi di Madinah, terdapat suatu kawasan mempunyai nama Al Anbariya. Di tempat ini terdapat suatu bangunan bekas stasiun kereta Hijaz yang sekarang menjadi museum sejarah Madinah dan masjid berarsitektur Turki Usmani yang masih berdiri gagah dan terawat hingga saat ini.

stasiun kereta hijaz madinah

Bangunan ini mempunyai gaya arsitektur sangat bertolak belakang dari bangunan yang ada di Madinah. Keasrian bangunan yang di kelilingi taman, pepohonan rindang, dan juga air mancur. Jika anda jamaah haji dan umroh tak ada salahnya mengunjungi Al Anbariya, yang laksana menghadirkan nuansa Eropa di tengah Madinah.

Pantas saja ketika kami mengunjungi Taman Al Anbariya, disana Nampak jamaah dari Turki dan Eropa. Karena lokasi ini tampaknya menjadi lokasi “nongkrong”  kesayangan warga Turki dan Eropa, yang tengah menjalani ibadah umrah. Orang-orang berwajah bule sering dijumpai duduk-duduk di bangku taman atau berfoto-foto. Khusus untuk warga Turki, tempat ini adalahtempat istimewa guna napak tilas jejak kejayaan Kesultanan Turki Usmani yang pernah memerintah Madinah dan menguasai daerah Hijjaz pada tahun 1517-1915.

Bangunan utama di area ini ialah Stasiun Kereta Api Hijaz. Gedung bergaya paduan arsitektur Mamluk, Turki, dan Eropa ini mempunyai bentuk persegi panjang. Bangunan Stasiun beserta Jalur kereta api ini tadinya dibangun guna membawa jamaah haji dari Damaskus (Syiria) dan Madinah melewati Amman, Jordania. Ide pembangunannya telah tercetus tahun 1864 saat kereta api menjadi moda transportasi sangat populer masa itu.

stasiun kereta api hijaz madinah

Gedung itu secara resmi dioperasikan pada 1908 oleh Kesultanan Turki Usmani dan tadinya dioperasikan sebagai stasiun kereta api jurusan Damaskus di Syria. Menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sumbangan dari sekian banyak  pihak diantaranya Sultan Abdul Hamid (Turki), Khedive Mesir dan Shah Iran Stasiun ini utamanya dipakai untuk membawa jemaah haji dari Turki, Syiria, dan sekitarnya, ke Madinah atau sebaliknya. Pembangunan jalur ini di prakarsai oleh Jerman, sementara lokomotif yang dipakai didatangkan dari Swiss.

Tahun 1912, kereta api dapat membawa 30.000 jamaah haji dan terus meningkat serta menjadi favorit jamaah haji. Bahkan konon kabarnya kepopuleran jalur kereta api ini mencapai puncaknya pada tahun 1914 dengan membawa hingga 300.000 jamaah haji.

kereta hijaz madinah

Gangguan pun muncul dari banyak suku – suku  di terpencil Arab yang tidak suka kehadiran kereta ini. Maklum saja, sumber pendapatan utama mereka semakin lama semakin menyusut, seiring  jamaah yang sebelumnya memakai jasa mereka sebagai pemilik unta sewaan yang mengangkut rombongan jamaah haji.

Dari sisi jamaah haji tentu saja menghemat waktu tempuh. Para jamaah haji sebelumnya musti melewati gurun padang pasir sekitar 40 hari sampai 2 bulan guna tiba di tanah suci dengan unta sewaan. Tapi ketika rel kereta api Hijjaz dimulai, perjalanan haji menjadi lebih murah dan aman sekitar empat hari saja. Namun butuh biaya yang tidak sedikit untuk mengerahkan 5000 serdadu tentara untuk mengawal lintasan ini.

Pamor kereta api Hijaz pun meredup seiring dengan meletusnya  Perang Dunia Pertama (1914-1918) berlangsung, jalur kereta api mengalami kehancuran yang parah bahkan hancur lebur. Ketika masa  tersebut pasukan Turki mulai memprioritaskan kereta api sebagai moda transportasi guna membawa pasukan. Pada 1920 operasional jalur ini pun dihentikan sebab gangguan politik dan keamanan yang semakin tidak terkendali.

Upaya membangun kembali  Stasiun Kereta Api Hijjaz  sesudah Perang Dunia 1 sempat diusulkan. Namun  setelah di kalkulasi ternyata ongkos yang diperlukan untuk membangun nya kembali sangat mahal dan tidak terjangkau. Terlebih lagi pada tahun 1971 pembangunan jalan raya dan jalur penerbangan umroh dan haji sedang mengalami kemajuan pesat. Hanya saja, pada 1920 operasional jalur ini dihentikan sebab gangguan politik dan keamanan.

Baru pada 2006, pemerintah Arab Saudi menyulap bangunan stasiun ini menjadi museum mempunyai nama Medina Al Munawara Museum and Al Hijaz Railway Museum. Di dalam bangunan bekas stasiun ini ada ruang utama yang memamerkan gerabah dan perlengkapan rumah tangga peninggalan penduduk Madinah ratusan tahun lalu.

Pada lantai kesatu yang masih menampakkan bangunan asli interior stasiun, dipamerkan pula  benda-benda yang menjelaskan situasi geologis dan keadaan alam di Madinah. Benda yang dipamerkan di antaranya batuan semi mulia dan tanaman – tanaman pangan yang ditanam di Madinah.

museum madinah

Seperti di bangunan lantai satu, interior bangunan di lantai dua pun diatur secara apik. Jendela-jendela kaca patri kuno dan lengkungan batu tidak dihilangkan dan menjadi perangkat pembias cahaya alami khas bangunan model eropa. Panel kayu dan kaca melapisi dinding, lantai, dan furnitur museum sampai-sampai tergambarkan kesan modern pada masanya.

Di lantai dua, ada ruang galeri yang memperlihatkan senjata api, senjata tajam, dan perlengkapan perang lainnya yang dipakai pejuang Madinah. Di samping itu, alat-alat memasak, kerajinan gerabah, perlengkapan masjid, dan produk kebudayaan lainnya juga dipamerkan di lantai kedua.

Poster-poster serta video yang diperlihatkan dalam belasan layar LCD dan proyektor menghiasi ruangan dalam museum. Semuanya mengkisahkan sejarah, budaya, dan kehidupan di Madinah semenjak dipimpin Rasulullah SAW, Zaman Kekaisaran Turki Usmani, hingga beralih ke Kerajaan Arab Saudi kini.

al hijaz museum interior

Dipamerkan juga poster – poster yang berisi foto dan ilustrasi perkembangan Masjid Nabawi dari mulai didirikan Rasulullah SAW. Benda-benda paling mudah dikenali di lantai dua ialah deretan batu-batu berukuran lumayan besar. Pada permukaan batu itu tertulis ayat – ayat suci Alquran. Di samping itu, dipamerkan pun sejumlah Alquran kuno.

Museum ini dibuka untuk umum pada pukul 09.00 – 21.00 Untuk menginjak kan kaki mengenang sejarah di museum yang mengenang Stasiun Kereta Api Hijjaz ini, pengunjung jamaah umroh dan haji tidak dipungut ongkos sepeser untuk masuk, juga alias gratis.

Lepas mengunjungi  museum Stasiun Kereta Api Hijjaz dan mempelajari sejarah Madinah, sebaiknya duduk – duduk di bangku taman di depan stasiun sambil selfie. Menikmati pemandangan khas Eropa di sekelilingnya. Dari taman ini, menara Masjid Nabawi sangat jelas terlihat. Jangan sungkan guna berjalan kaki ke Masjid Nabawi.

stasiun kereta api hijaz belakang

Dalam perjalanan, dapat dijumpai sebanyak bangunan paling bersejarah lainnya. Di antaranya gedung pemerintahan Madinah, Masjid Ghamamah, Masjid Umar bin Khattab, dan Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq.  Tempat yang mungkin jarang masuk dalam rangkaian acara ziarah dan city tour seputar kota Madinah jamaah haji atau umroh Indonesia. Cukup jalan kaki. Atau bila sedang sungkan berjalan, naik taxi dari depan masjid Nabawi Cuma 5 riyal ongkosnya. Bilang saja Mahattah Hijjaz ke sopir taxi. Atau anda bisa memanfaatkan Bus Tingkat Madinah.

Anda berniat mengunjungi Museum sekaligus bekas Stasiun Kereta Api Hijjaz ini ? Segera hubungi biro travel UMROH MURAH anda, dan pastikan Stasiun Kereta Api Hijaz masuk kedalam daftar kunjungan program ziarah dan city tour mereka di kota Madinah

 

 

Be Sociable, Share!