Sa’i dan Sepenggal Tauladan Siti Hajar

Sa’i adalah berjalan atau berlari – lari kecil sebagai rangkaian dalam ibadah haji dan umroh. Sa’i dimulai dari bukit shafa ke bukit marwah lalu kembali sebaliknya, dari bukit marwah ke bukit shafa. Perjalanan dari bukit shafa ke bukit marwah dihitung satu kali, dan perjalanan sebaliknya pun dihitung satu kali pula. 

Sa'i

Perjalanan bolak –balik itu secara keseluruhan harus berjumlah 7 (tujuh) kali. Dengan rincian 4 (empat) kali perjalanan dari shafa ke marwah dan 3 (tiga) kali dari marwah ke shafa secara berurutan. Perjalanan ibadah ini diakhiri di bukit marwah.

Dulu, pada saat zaman Rasulullah SAW, bukit shafa dan marwah berada di luar MASJIDIL HARAM. Namun seiring dengan terus berlangsungnya PERLUASAN MASJIDIL HARAM, maka area perlintasan tersebut kini menjadi satu dengan area masjidil Haram. Meskipun dari segi syar’i kedua bangunan ini tetap tidak dapat dipersamakan.

Sa’i antara Kedua bukit shafa dan marwa yang berjarak sekitar 405 m sekarang telah direnovasi dengan bangunan yang panjang  dan memiliki dua lantai. Dengan lebar keseluruhan kira – kira 20 meter, jalur yang dipergunakan untuk ibadah tersebut terbagi menjadi 4 jalur,  yakni 2 (dua) jalur untuk para pejalan kaki serta dua jalur khusus bagi jamaah haji dan umroh difable maupun jamaah – jamaah yang membutuhkan bantuan kursi roda.

Kini Dengan dibangunnya gedung sebagai lintasan Sa’i (masa’a), gedung  berlantai dua yang dilengkapi dengan fasilitas pendingin udara (AC) dan kipas angin yang secara terus menerus meniupkan udara dingin, perjalanan Sa’i ini terasa tidak melelahkan. Tentu saja hal ini sangat berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Siti Hajar dahulu.

Sa'i

Total perjalanan berjumlah 2.835 meter. atau 7 putaran X 405 meter. Seandainya jamaah haji maupun UMROH yang merasa kelelahan, maka dapat beristirahat sejenak di pinggir – pinggir jalur perlintasan, dengan meminum air  ZAM – ZAM  yang disediakan di sepanjang jalur Sa’i, Insya Allah tenaga jamaah pun akan segera pulih. Istirahat untuk rehat minum ini sama sekali tidak membatalkan Sa’i.

Diantara tempat Sa’i terdapat daerah yang disebut sebagai Bathnul Waadi. Daerah ini ditandai dengan pilar yang berwarna dan dihiasi pula dengan lampu neon yang berwarna hijau, disini bagi jamaah umroh dan haji lelaki disunatkan untuk berlari – Iari kecil, sedangkan bagi jamaah wanita cukup berjalan cepat saja. Ibadah ini boleh dikerjakan dalam keadaan tidak berwudhu’. Ibadah Sa’i  juga boleh dikerjakan oleh wanita yang sedang datang bulan (haid) atau nifas.

Karena ibadah ini merupakan ibadah napak tilas “penderitaan” Siti Hajar dalam menghidupi putanya (Nabi) Ismail AS, maka agar lebih khusyu’ para jama’ah HAJI dan umroh sedapat mungkin benar – benar membayangkan dan mengilhami seolah mengalami derita serta kesulitan yang sama seperti yang dialami oleh Siti Hajar.

Dengan ketetapan dan perintah Allah, Ketika itu Siti Hajar ditinggal di daerah tersebut oleh Nabi Ibrahim AS. Dengan bersusah payah Siti Hajar pun mencari air untuk putranya Ismail AS. Sehingga Sa’i dan air (sumur) zam – zam merupakan kesatuan kisah tauladan dan syiar yang tak dapat terpisahkan.

Sa’i
Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!