(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Sekali Pahala Sholat Di Masjid Nabawi Madinah sama dengan Seribu Kali Sholat di Masjid lain, kecuali di Masjidi Haram. Keistimewaan yang menakjubkan ini merupakan kelanjutan dari KEUTAMAAN SHOLAT YANG MENAKJUBKAN DI MASJIDIL HARAM  yang merupakan “Bonus” Pahala bagi mereka jamaah haji dan umroh serta peziarah yang sedang berkunjung dan melaksanakan ibadah Sholat di dalamnya.

Dalam keterangan yang telah lalu telah dijelaskan, bahwa Sholat di Masjidil Haram lebih utama dari Sholat seratus ribu kali, sementara Sholat di masjid Nabawi melebihi seribu kali Sholat di tempat lain. Maka beruntunglah bagi mereka yang dapat melaksanakan Sholat di dalamnya, apalagi jika dalam rangkaian perjalanan safar untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh. Keutamaan sholat ini di Masjid ini Sebagaimana Sabda Rasulullah :

 

Dalam pembahasan ini pun sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Sholat yang diutamakan itu Sholat fardhu saja ataukah Sholat sunah saja. Karena adanya kaidah umum yang menyatakan bahwa Sholat sunah yang utama adalah Sholat yang dilakukan di rumah sendiri.

Diriwayatkan bahwa seorang bernama Suraid datang menemui Rasulullah pada hari ditaklukannya kota Makkah (fathu Makkah), lalu ia berkata,”Wahai Rasulullah aku bernazar kepada Allah, jika Allah membukakan kota Makkah untukmu, maka aku akan melakukan Sholat di baitul Maqdis. Lalu Rasulullah menjawab, mengapa disana? Sholatlah disini saja, masjid ini lebih utama berlipat.

Seorang sahabat terkenal dengan ide briliannya dalam perang Khadaq, Salman al-Farisi, suatu hari berniat untuk pergi menuju Baitul Maqdis untuk melakukan Sholat disana. Dalam perjalanannya, Salman bertemu Abu Hurairah yang kemudian menegurnya,” Wahai Salman,hendak pergi kemana engkau?” “ke Baitul Maqdis di Palestina untuk melakukan Sholat disana,”jawab Salman.

Salman kemudian diarahkan untuk mengurungkan niatnya ,dan sebaiknya ber UMROH ke Makkah dan kemudian ke Madinah, sebab Sholat di Masjid Nabawi jauh lebih utama.

Seorang shahabiyah di zaman Rasulullah, ada yang menjadikan Sholat di MASJID AL-AQSA di Baitul Maqdis, sebagai Sholat nazar apabila Allah memberikan kesembuhan kepadanya dari sakit yang sudah begitu parah diderita. Namun, ketika beliau berjumpa dengan Maimunah sebelum pergi ke baitul Maqdis, Maimunah mengingatkannya agar  lebih mendahulukan Sholat di Masjid Nabawi. Begitulah seharusnya,bernazar untuk melakukan Sholat di salah satu tempat berpahala berlipat-lipat merupakan tujuan ibadah mulia.

Para sahabat sangat bersemangat untuk bisa menjalankan Sholat di masjid yang sangat dicintai Rasulullah, dimana jasad beliau juga berada didalamnya. Salah satu contohnya adalah sahabat Muslim bin Aslam. Usia beliau udah sangat lanjut. Suatu hari ia berniat keluar rumahnya. Dia pun sudah merencanakan dalam hatinya sambil berbisik kepada dirinya sendiri, ”aku akan Sholat di masjid Rasulullah setelah keperluan di pasarku selesai.

Kemungkinan karena usianya yang sudah lanjut itu, Muslim bin Aslam ternyata lupa dan langsung pulang ke rumahnya lagi setelah keluar dari pasar. Sesampainya dirumah beliau melepaskan dan menaruh sorban serta bajunya. Ketika itu, Muslim bin Aslam teringat bahwa dirinya tadi belum melakukan Sholat di masjidnya Rasulullah. Dia pun menyesal sekali sambil berkata,” demi Allah, aku sungguh belum melakukan Sholat itu.” Akhinya, Muslim bin Aslam bergegas kembali ke kota Madinah sekadar untuk menjalankan Sholat didalamnya.

Muslim bin Alam teringat sabda Rasulullah yang berbunyi :

Barang siapa di antara kalian berhenti/berkunjung di kota ini (Madinah), maka janganlah dia kembali ke rumahnya (keluarganya) hingga dia sudah melakukan Sholat dua rakaat didalam masjidnya.”(HR. Ath-thabarani).

Sholat didalam Masjid Nabawi bagi orang yang masuk KOTA MADINAH adalah seperti Sholat Tahiyyatul Masjid bagi orang yang sudah masuk masjid pada umumnya. Bagi orang yang masuk masjid, maka dia tidak dianjurkann duduk sebelum melakukan Sholat sunah Tahiyyatul masjid dua rakaat. Begitu juga bagi orang yang masuk kota Madinah.

Dia tidak dianjurkan kembali pulang ke rumahnya sebelum dirinya menjalankan Sholat di dalam masjid nabawi. Seperti penganalogian seperti ini tidak terlalu berlebihan, bukan?!

Jika pahala sekali Sholat di Masjid Nabawi sama dengan seribu kali Sholat, maka jumlahnya sama dengan Sholat wajib selama kurang lebih tiga tahun. Jika kita melakukan Sholat dua kali di dalam masjid Nabawi maka sama saja dengan Sholat kurang lebih selama enam tahun, begitu seterusnya. Betapa ini merupakan besar yang menjadi amal kebaikan untuk segera dilaksanakan, bagi yang sudah mampu, mempunyai kecukupan biaya, dan persiapan hati, dengan niat yang saleh demi mencari keridhaan Allah.

Meskipun demikian, Syeikh Athiyyah Muhammad Salim mengingatkan, keutamaan dan pahala yang sama dengan tiga tahun Sholat itu bukan berarti seseorang yang telah melakukan Sholat sekali di masjid Nabawi lalu tidak melakukan Sholat sama sekali selama tiga tahun, karena ber anggapan sudah mencukupi kewajiban Sholatnya.

Keutamaan itu hanya berkaitan dengan pahala yang disediakan Allah, sementara kewajiban melakukan Sholat lima waktu dalam sehari merupakan kewajiban yang tidak dapat gugur dimana pun dan dalam keadaan apa pun begitu juga tentang keutamaan Sholat di Masjidil Haram sebagaimana keterangan yang sudah lalu.

Be Sociable, Share!