(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Untuk menghadapi cuaca dingin selama ibadah umroh di Tanah Suci, sebaiknya sebelum berangkat hendaknya mempersiapkan diri jauh – jauh hari sebelum hari keberangkatan. Banyak calon jamaah umroh khususnya bagi mereka yang baru pertama kali ke Tanah Suci membayangkan bahwa Kota Mekkah dan Madinah merupakan hamparan padang pasir yang tandus, gersang dan panas. Anggapan itu tak dapat disalahkan, namun juga tidak semuanya benar. 

Selain persiapan fisik dan mental, juga perlu mengetahui kondisi kesehatan serta obat – obatan apa yang diperlukan di dalam perlengkapan umroh yang harus dibawa. Dengan begitu diharapkan dapaat mengantisipasi keadaan dingin di sana nantinya.

Meskipun kota Mekkah dan Madinah dan hampir sebagian besar wilayah Arab Saudi merupakan padang pasir,  namun Modernisasi Perubahan Wajah di kedua Kota suci tersebut telah merubah padang pasir yang tandus menjadi bangunan yang modern yang artistik. Tak terkecuali MENARA JAM TERBESAR DI DUNIA

Soal musim, sebenarnya Saudi Arabia juga memiliki dua musim, yaitu musim panas dan musim dingin. Tidak berbeda jauh dengan IndonesiaPada Musim panas yang biasanya dimulai pada bulan Maret hingga Agustus matahari terasa sangat terik, suhu udara mencapai 50 derajat celsius pada siang hari dan akan terasa hangat di malam hari, dengan suhu antara 30 hingga 40 derajat.

Diperlukan upaya khusus untuk dapat mensiasati suhu panas kota mekkah Sedangkan musim dingin biasanya terjadi mulai bulan September hingga Maret. Termasuk untuk PROMO UMROH NOVEMBER. Puncak musim dingin justru terjadi pada awal musim umroh, disaat yaitu sekitar bulan November  hingga Februari. Saat itu selain masih dingin jamaah umroh juga kepadatan jamaah umroh belum mencapai puncaknya

Bagi jamaah umroh yang berasal dari daerah maupun mereka yang telah terbiasa dengan cuaca dingin, suhu di Tanah Suci pada bulan September hingga Maret nanti mungkin tidak akan menjadi persoalan serius. Namun bagi jamaah umroh  dari Indonesia, suhu udara yang kadang dapat mencapai dibawah nol derajat celcius akan menjadi kendala yang sangat serius.

Serangan hawa dingin dan hembusan angin kencang akan dialami jamaah umroh semenjak menapakkan kaki baik di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, atau bandara Madinah Al Munawarrah, dan tentunya Mekkah Al Mukarramah. Selain Iklim dengan kelembaban yang rendah tiupan angin yang terasa kering dan lebih kencang dari biasanya terasa sampai menusuk ke tulang. Kondisi itu akan memuncak menjelang pagi hari dan di malam hari.

Tak ayal gangguan kesehatan saat musim dingin pun kerap kali muncul dan apabila tidak diantisipasi dengan baik sebelumnya dapat berpotensi menggangu kelancaraan ibadah jamaah umroh.

Gangguan kesehatan yang kerap muncul umumnya dari mulai yang ringan seperti  bibir pecah – pecah, kulit bersisik, gata – gatal, batuk, pilek, mimisan, hingga gangguan kesehatan serius seperti serangan jantung, gangguan darah tinggi (hipertensi), dan gangguan kesehatan lainnya khususnya bagi mereka jamaah umroh dengan risiko tinggi (risti).

Persiapan fisik menghadapi musim dingin sejak di Tanah Air dapat dimulai dengan membiasakan diri berolah raga maupun lari pagi, atau setidaknya hanya sekedar jalan kaki setelah Shalat Subuh secara teratur, serta mengatur pola asupan makanan dengan gizi yang seimbang.

Umroh dan Haji memang sedikit berbeda dengan amal ibadah lainnya, hampir 70 % ibadah umroh diisi dengan kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik. Meskipun jarak hotel yang dekat, namun jamaah tetap harus berjalan minimal 50 hingga 800 meter menuju dan sepulang dari masjidil haram maupun masjid nabawi.

Atau saat jamaah umroh mengambil miqat keluar tanah haram, thawaf, sai, hingga selesai tahallul, semua membutuhkan kekuatan fisik. Berdesakan dengan jamaah lain saat thawaf dan mencium hajar aswad serta perjalanan sa’i di dalam masjidil haram juga cukup menguras banyak energi. Ditambah lagi saat jamaah memasuki area Raudhah di Masjid Nabawi untuk merasakan nikmat nya taman surga. Karena itulah fisik yang prima sangat diperlukan.

Salah satu upaya menghadapi cuaca dingin adalah dengan membawa perlengkapan yang merupakan “senjata perlawanan” untuk bisa menahan hawa dingin seperti sweeter, jaket tebal, kaus kaki, masker, serta penutup kepala. Banyak juga dari jamaah umroh asal Indonesia yang membawa sebo (peci kuncung penutup kepala hingga leher, dimana yang terbuka hanya pada bagian wajah. Ini juga menjadi senjata yang mampu diandalkan untuk menahan dingin.

Obat ataupun obat herbal anti masuk angin juga kadang kala diperlukan, banyak juga jamaah umroh yang melawan masuk angin dengan therapi tradisional, kerokan. Siapkan obat batuk dan pilek atau pun flu. Cara yang cukup efektif menghindari kulit kering dan bersisik dapat dengan membawa krim pelembab. Lipgloss juga efektif untuk menghindari bibir pecah-pecah, atau dapat pula diganti dengan madu dengan cara mengoleskannya di bibir sebelum keluar dari HOTEL DI DEKAT MASJIDIL HARAM.

Semua jenis obat – obatan, pelembab, maupun madu memang dapat dengan mudah diperoleh di toko – toko farmasi di dekat masjidil haram maupun masjid nabawi, namun alangkah baiknya apabila perlengkapan yang harus dibawa jamaah umroh tersebut dipersiapkan dari tanah air. Selain menghindari kesulitan berkomunikasi, serta tidak membuang waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk beribadah, juga sebagai TIPS  MENGHEMAT BIAYA UMROH.

Pada umumnya suhu udara saat jamaah umroh berada di Madinah Al Munawarrah terasa lebih dingin dibandingkan dengan suhu kota Makkah. Pada saat menjelang adzan Subuh suhu udara dan ditambah dengan kecepatan hembusan angin membuat cuaca dingin terasa sangat menusuk,  sebaiknya bagi jamaah yang ignin beribadah sholat subuh masjid nabawi, berangkatlah lebih awal, supaya mendapatkan tempat di dalam bangunan masjid karena apabila terlambat sedikit saja, jamaah terpaksa melaksanakan shalat di area pelataran masjid, yang dingin nya akan lebih menyiksa.

Pada siang hari, suhu relatif agak hangat. Namun jamaah tetap harus menghindari sinar matahari langsung. Dehidrasi bisa terjadi tanpa disadari. Untuk menghindarinya jamaah sebaiknya memperbanyak mimum air putih. Air zam-zam bisa mudah di dapat di masjid. Sebaiknya jamaah membawa tempat minum untuk persiapan.

Makanan tak kalah penting, harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai karena masalah makanan perjalanan umroh kita jadi berantakan.

Be Sociable, Share!