Mengenal Serba Serbi Hajar Aswad

Hajar aswad adalah batu  yang berbentuk mirip telur namun berwarna hitam kemerah-merahan. Diameter lingkarannya memiliki ukuran kira – kira 30 ( Tiga Puluh ) centimeter, dan garis tengahnya sekitar 10 ( Sepuluh ) centimeter.

Kini pada batu hajar aswad terdapat bintik-bintik merah dan kuning bekas pecahan, dan sekarang diikat dengan “pita” perak. Ia diletakkan di sudut sebelah timur bagian ka’bah.

Dari mana Asal Hajar aswad saat ini masih saja diperdebatkan di berbagai kalangan, dari mulai ulama hingga ilmuwan. Ada yang berpendapat , bahwa hajar aswad adalah batu dari surga. Pada saat diturunkan berwarna putih bersih dan bercahaya, namun dosa manusialah yang menjadikannya berwarna hitam seperti sekarang. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa ia adalah meteor yang jatuh. Walallhua’lam..

Betapapun, menurut sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khathab, batu itu tidak memiliki tuah. Katanya : “Aku tahu bahwa engkau hanya batu yang tak dapat memberi manfaat atau mudarat. Jika saja aku tak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku pun tidak menciummu.”hajar aswad

Benar , batunya sendiri tidak mampu memberi manfaat atau mudarat. Tetapi menciummnya dengan menghayati maknanya jelas akan memberikan sebuah manfaat besar. Karena apabila dilogika, mana mungkin Rasulullah SAW mencium Hajar aswad dan menganjurkan kita juga menciummnya? Begitu sanggahan dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib, terhadap ucapan Umar Bin Khathab.

Hajar aswad setidaknya dapat dikiaskan sebagai perlambang ““ Tangan ”” Allah SWT. Layaknya salah satu pihak tatkala membuat kesepakatan maupun janji kesetiaan dengan pihak lain. Yang berjabat tangan dengan sekutu atau mitra nya. Ia mencium tangan pihak lain nya, apabila ia mengagungkan atau menghormatinya.

Demikian juga apabila seseorang yang akan memulai atau telah selesai melakukan thawaf . berjanji kepada Allah SWT, untuk selalu berada dalam lingkaran Illahiah, menjalankan perintah-Nya serta senantiasa menjauhi larangan-Nya. Firman Allah dalam Q.S Al-A’raaf (7) : 172 :

 

Ka’bah yang menjadi central dalam ibadah jamaah UMROH maupun haji memliki amat banyak pelajaran berharga dari sisi kemanusiaan. Disana pula terletak Hijir Ismail yang secara harfiah memlikia arti pengakuan Ismail. Disanalah Nabi Ismail yang tak lain adalah putra dari Ibrahim AS pernah berada dalam dekapan dan pangkuan Ibundanya Siti Hajar.

Ia seorang wanita kulit hitam, fakir lagi miskin, dan bahkan bekas budak, yang konon menurut beberapa riwayat makam nya pun di tempat itu. Namun demikian, perempuan yang merupakan budak wanita ini, yang menempati “kasta” paling rendah dimuliakan Allah dengan  dikebumikan oleh Allah SWT disana, atau katakanlah : “ Peninggalannya diabadikan Allah SWT”.

Peninggalan ini kiranya dapat memberikan makna dan pelajaran bagi setiap manusia insan sekaligus khalifah di bumi bahwa Allah SWT, menganugerahkanderajat tinggi bukan berdasarkan status sosialnya, namun karena kedekatannya Hamba kepada Allah SWT, dan bentuk usahanya guna membentu pribadi hajar (berhijrah) dari yang jahat menuju baik dan dari terbelakang menuju sebuah peradaban. 

Perbuatan mencium Hajar aswad terkatogori ke dalam ibadat dan dilakukan semata-mata karena mengikuti sunnah. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umat muslim tuk mencium Hajar aswad (bila berkesempatan) sehingga dan karenanya, semua umatnya yang melaksanakan ibadah haji dan umroh menciumnya dengan sebuah dogma, tanpa tanya dan debat.

Riwayat Hajar aswad ;

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur dan tanpa diketahui siapaun dalam padang pasir selama beberapa waktu lamanya dan atas izin Allah SWT secara “ajaib” diketemukan kembali oleh Nabi Ismail AS, ketika dia berikhtiar mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih kurang sedikit saja.

Batu Hitam yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari-cari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta gembira dan tak henti-hentinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah dekat Ka’bah, Hajar aswad tak segera ditaruh di tempatnya sekarang. Melainkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.

Hajar aswad direbut.

Kisah lain yang sangat tak kalah penting adalah yang terjadi pada saat musim haji tahun 317 H. Pada saat itu umat islam memang sangat dan sedang dalam posisi lemah dan bercerai berai sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abu Tahir Al Qurmuthi seorang kepala suku di Jazirah Arab bagian Timur untuk merebut Hajar aswad.

Dengan membawa 900 anak buah bersenjata lengkap mendobrak pintu MASJIDIL HARAM dan bahkan membongkar KA’BAH secara membabi buta, merampas Hajar aswad dan kemudian membawa ke negaranya yang sekarang terletak di kawasan teluk Persia. Kemudian ia membuat pengumuman dengan menantang umat muslim ; “Silahkan saja mengambil batu itu, dengan perang ataupun pembayaran sejumlah uang, yang pada saat itu jumlahnya sangat berat bagi umat muslim.

Kemudian setelah 22 tahun ( tahun 339 ) hajar aswad itu dikembalikan ke Mekah oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi Lillah setelah penebusan dengan uang sebanyak 30.000 Dinar. Peristiwa ini seringkali mengundang cemoohan kaum yang ingin memecah belah kesatuan umat.

Hajar aswad terapung dalam air.

Padahal sudah menjadi Sunatullah yang diterangkan dalam kitab Ikhbarul-Kiraam, ketika Abdullah bin Akim menerima batu dari pemimpin suku Qurmuth itu langsung ia masukkan dalam air lalu tenggelam, kemudian diangkat serta dibakar ternyata batu itu pecah, maka ia menolak batu itu dan menyatakan bahwa “hajar aswad” tersebut palsu. Dengan tenang pemimpin Qurmuth itu memberi yang kedua, yang sudah ia lumuri minyak wangi serta dibungkus nya dengan kain sutera yang sangat apik dan cantik.

Takut tertipu untuk kedua kalinya, Abdullah menguji keasliannya kembali. Sama dengan cara yang pertama tadi, nyatanya batu itu juga palsu, karena tenggelam di air dan pecah oleh api. Akhirnya pemimpin suku Qurmuth memberikan yang betul-betul asli. Tetapi oleh Abdullah batu inipun diperlakukan seperti dua batu yang sebelumnya ia coba. Benar – benar aneh tapi nyata bahwa batu yang ketiga itu tidak tenggelam malah terapung diatas air, ketika dibakar tidak pecah dan bahkan terasa panas. Maka Abdullah dengan tersenyum puas mengatakan ; “Nah inilah dia, batu kita”. Dengan keheranan dan setengah tak percaya pemimpin suku Qurmuth bertanya “Darimana anda mendapat ilmu ini?”

Abdullah menjawab : “Rasulullah SAW pernah bersabda, Hajar aswad ini akan memberikan kesaksian tentang siapa – siapa yang pernah menyalaminya dengan niatan baik atau tidak baik, Hajar aswad tidak akan tenggelam di dalam air dan tidak pula panas di dalam api”

pemimpin Qurmuth itupun angkat bicara“Inilah bukti bahwa agama ini yang betul – betul merupakan tuntunan dari Allah SWT (bukan produksi akal)”.

Namun, kepada pemimpin Qurmuth ini Allah SWT menurunkan siksaan NYA. Ia menderita penyakit yang amat sulit diobati, penyakit semacam lepra yang berlalngsung lama, lagi tidak dapat pula disembuhkan. Akhirnya semua persendiannya berlepasan dan matilah dia.

Hajar Aswad
Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!