(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Memahami Haji secara Syariat dan Historis memang harus dilihat secara menyeluruh, karena keduanya memang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam tulisan kali ini Syakira Wisata sebagai penyelenggara perjalanan ibadah haji khusus berusaha mengetengahkan topik tersebut. Tentu saja dengan didasari pada literatur yang ada. 

haji

Sejarah Haji

 

Menurut Al-Qur’an, haji merupakan syariat umat terdahulu (syar’u man qablana). Dalam sejarah, Nabi Adam AS tercatat sebagai manusia pertama yang melaksanakan haji. Beliau menjalankan ritual haji di Mekkah setiap tahun dengan berjalan kaki dari Tanah India. Hal ini beliau lakukan selama empat tahun (Sulaiman Aljamal, Hasyiyah Jamal Ala Minhaj Al-Thulab, hlm. 422).

Semua utusan Allah SWT yang datang setelah Nabi Ibrahim AS pernah melaksankan haji ke Mekkah. Sebagian ulama mengecualikan Nabi Hud AS dan Shalih AS, karena keduananya disibukkan dengan urusan umatnya (Sulaiman bin Muhammad Al Bujairami. Hasyiya Al Bujairami, 2/461).

Masyarakat Arab sendiri sudah mengenal dan menjalankkan syariat ibadah haji yang mereka warisi dari ajaran (millah) Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika kedua utusan itu masih berada di tengah-tengah mereka. Bangsa Arab masih menjalankan ibadah ini sesuai dengan tata cara yang diajarkan kedua utusan tersebut. Mereka melestarikan ritual MANASIK HAJI hingga berabad-abad. Keadaan terus berlangsung hingga datanglah seseorang yang bernama Amr bin Luhai Al-Khaza’i.

Memahami haji

Dialah orang yang pertama kali meletakkan berala-berhala di sekitar Ka’bah. Tak cuma itu, dia mengajak orang-orang Arab untuk menyembah berhala. Diangaplah berhala sebagi perantara beribadah kepada Allah SWT. Ritual pemujaan kepada berhala ini disertai pesta minuman keras (khamr) (Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dusri. Al-Hajj Ahkamuhu Asraruhu Manafi’uhu, hlm. 42).

Sejak saat itulah, masyarakat Arab mulai mengubah tata cara haji yang mereka warisi dari ajaran Nabi Ibrahim AS. Mengjelang diutusnya Nabi Muhammad SAW, cara beribadah haji yang dikenal oleh bangsa Arab cukup banyak. Hal ini terus berlangsung hingga masa diutusnya Nabi Muhammad SAW. Bahkan masyarakat yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW sudah tidak mengenal lagi bagaimana cara beribadah yang benar. Cara beribadah sesuai dengan yang diajarkan nenek moyang mereka, yaitu Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Hal ini membuat orang-orang yang sudah beriman merasa bingung ketika melihat aturan haji yang diajarkan Nabi Muhammad SAW ternyata sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah. Sebagai ekpresi penolakan, mereka enggan melakukan sa’i (berjalan kecil) antara bukit Shafa dan Marwah.

Mereka menganggap ritual itu Sya’bi, pada bukit Shafa terdapat berhala yang dinamai Asaf dan pada bukit Marwah terdapat satu berhala bermana Nailah (Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf, Tafsir Al Bahr Al Muhith, 1/631). Para sahabat bersedia menjalankan sa’i setelah turun sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Shafa dan Marwah adalah dua tanda agama Allah SWT :

memahami haji

Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa menjalankan ritual sa’i tidak berdosa sebagaimana anggapan mereka. Bahkan, Allah SWT akan memberikan balasan kebaikan jika kegiatan itu dilakukan atas dasar kebaikan.

Para ahli sejarah berselisih pendapat mengenai tahun disyariatkan haji bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ada yang berpendapat haji diwajibkan sebelum HIJRAH. Sebagian ulama mengatakan bahwa haji diwajibkan pada tahun pertama setelah hijrah. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ritual ini diwajibkan pada tahun ke-10 Hijriah. Sedangkan menurut pendapat yang paling sahih, sebagaimana penuturan Ibnu Hajar, ritual ini diwajibkan pada tahun ke-6 H (Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarhi Al-Minhaj, 4/3).

Perbedaan pendapat ini berawal dari perbedaan versi tentang waktu turunnya ayat:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS/ Ali Imran ayat 97).

Arti Haji dan Umroh

Perbedaan pendapat di atas muncul jika ayat di atas dijadikan sebagai dasar kewajiban haji. Jika kita berangkat dari versi lain yang mengatakan bahwa dalil kewajiban haji adalah ayat: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS. AL-Baqarah ayat 196), maka akan terjadi pula perbedaan pendapat menyangkut waktu turunnya. Ada baiknya jika kita tidak terlalu berbelit-belit meninjau kapan awal mula diwajibkannya haji, karena kajian ini tidak berkaitan dengan bahasan kita.

Namun, paling tidak, hendaknya kita mengetahui bahwa pendapat yang dianut mayoritas ulama adalah keterangan pertama yang mengatakan bahwa kewajiban haji adalah berdasar QS. Ali Imran ayat 97 (Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimisyqi, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, 2/81).

 

Segera Daftarkan Diri Anda untuk Berhaji

 

Meskipun haji diwajibkan pada tahun ke-6 H, namun ternyata Rasullullah SAW baru melaksanakan haji pada tahun ke-10 H, karena haji ini dilakukan menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW dan setelahnya Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah menunaikan haji kembali. Haji tersebut dianggap sebagai haji perpisahan, dan istilah yang populer untuk menyebut haji ini adalah haji Wada (perpisahan). Padahal, Nabi Muhammad SAW memiliki kesempatan untuk menjalankan ibadah haji pada tahun ke-7 H, 8 H, dan 9H (Muhammad bin Al Hasan Al-Jahwi, Al-Fikr Al-Sami Fi Tarikli Al Fiqh Al-Islami, 1/93).

Setelah kembali dari ekspedisi Tabuk pada tahun 8 H, Nabi Muhammad SAW justru memerintahkan Abu Bakar untuk berhaji. Beliau sendiri tidak berangkat, padahal beliau tidak sedang disibukkan dengan apa pun. Para sahabat lain yang mampu, serta istri-istri Nabi Muhammad SAW juga tidak diperintahkan untuk segera berangkat haji.

Wuquf Arafah

Berdasarkan fakta ini, Imam Syafi’i berpendapat bahwa kewajiban haji bukanlah kewajiban yang sifatnya segera (fauri). Ketika seseorang telah mampu secara fisik dan finansial, tapi tidak segera melaksanakan haji pada tahun itu, dia tidak berdosa selama berniat untuk menunaikannya pada tahun yang akan datang (Muhammad bin Idris Al-Syafi’i Al-Umm, 8/158). Ini berbeda dengan Imam Malik dan Imam Ahmad yang menyatakan hukumnya berdosa apabila seseorang yang sudah memenuhi syarat kewajiban haji, tetapi tidak berangkat pada tahun itu juga (Abdur Rahman Al Jaziri, Kitab Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, 1/571).

Pendapat yang kedua, yakni yang mejawibkan menyegerakan ibadah haji ketika sudah memiliki kemampuan, didasarkan pada hadist Rasulullah SAW :

“Barang siapa yag tidak terhalang untuk mengerjakan ibadah haji karena kebutuhan zahir yang nyata, atau karena penguasa yang berdosa atau karena sakit yang parah, sedang ia mati sebelum sempat melaksanakan hajinya, maka semoga ia meninggal dalam keadaan sebagai orang Yahudi atau Nasrani.” (Sunan Al-Darimi, No. 1785).