Masjidil Aqsha, Qiblat Pertama Sebelum Ka’bah

Jutaan jamaah haji dan umroh setiap tahun selalu membanjiri Masjidil Haram. Masjdil Haram dimana terdapat Ka’bah di dalamnya memang sebagai qiblat sekaligus titik central dalam penyelenggaraan ibadah haji dan umroh. Namun tahukah Anda bahwa sebelum menghadap ke Masjidil Haram dan Ka’bah  sholat umat muslim menghadap Qiblat di Masjidil Aqsha ?

Kaum Muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis sejak diwajibkannya shalat pada malam Isra dan Mi’raj pada tahun ke-10 kenabian, tepatnya tiga tahun selum peristiwa hijrah Rasulullah. Adapun perintah menhadap Masjidil Haram di Makkah baru datang 16 bulan setelah Rasulullah melakukan hijrah, ketika turun firman Allah dalam QS Al Baqarah 150:

Ketika perubahan qiblat bagi umat Islam ini diabadikan di KOTA MADINAH berupa peninggalan bersejarah yang masih ada hingga sekarang. Situs bersejarah itu adalah Masjid Qiblatain. Di tempat ini, para sahabat melakukan satu shalat dengan menghadap dua qiblat, yaitu menghadap ke Masjidil Aqsha, kemudian menghadap Masjidil Haram.

Pada pertengahan bulan Rajab, Rasulullah mengunjungi Umma Bisyr, kemudian Rasulullah dan sahabatnya makan siang, lalu shalat Zuhur (Ada riwayat yang menyatakan shalat ashar). Pada waktu beliau shalat Dhuhur bersama para sahabatnya itu, beliau menerima wahyu Allah agar memutar qiblatnya dari arah Baitul Maqdis ke arah Makkah,Baitullah. pada waktu itu, Rasulullah dan para sahabatnya sedang dalam kondisi rukuk pada rakaat yang kedua. Oleh sebab itulah, masjid tersebut dengan ‘Masjid Dua Qiblat’ (Qiblatain).

Masjid Qiblatain merupakan salah satu agenda wajib dalam city tour Madinah bagi jamaah umroh dan haji syakirawisata.com Menghadap qiblat dalam shalat adalah syarat sah shalat. Dari kejadian ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yang tidak mengetahui arah qiblat kemudian berijtihad/berusaha mengetahui arah qiblat, lalu mengetahui arah qiblat, lalu melakukan shalat sesuai hasil ijtihadnya, kemudian di tengah-tengah shalatnya itu tampak jelas bahwa ada qiblat yang benar, maka dia bisa berpaling dan mengarahkan shalatnya agar menghadap kepada qiblat yang benar tersebut, dan shalatnya tetap sah.

Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis menjadi qiblat bagi umat Islam selama setahun lebih empat atau lima bulan. Setelah turun ayat Al-Qur’an di atas, umat Islam kemudian melakukan shalat dengan menghadap ke Masjidil Haram di Makkah. Namun, dengan diubahnya qiblat tersebut, bukan berarti Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha menjadi kehilangan tampat di hati umat Islam. Bagaimanapun, tanah itu adalah tanah suci umat Islam yang ketiga. Maka tak mengherankan jika beberapa biro travel umroh banyak menyelenggarakan paket UMROH plus Masjid Al-Aqsha

Selain itu, menurut beberapa riwayat hadis, Masjidil Aqsha adalah masjid atau rumah Allah yang dibangun setelah Masjidil Haram. Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah, masjid mana yang pertama kali dibangun. Beliau menjawab: Masjidil Haram. Mereka bertanya lagi : kemudian masjid mana? Masjidil Aqsha. “Berapa jarak waktu antara pembangunan keduanya.”tanya mereka kembali. Rasulullah kemudian menjawabnya:’empat puluh tahun. Dimana pun kalian masuk waktu shalat, maka lakukanlah shalat didalamnya, karena keutaman ada didalamnya.”(HR. Bukhari).

Menurut banyak keterangan, ketika di Makkah Rasulullah melakukan shalat menhadap kepada Masjidil Aqsha dan juga menghadap Ka’bah. Namun, ketika beliau dan para shabat berhijrah ke kota Madinah, dimana disana benyak sekali orang Yahudi yang sudah menetap disana, maka beliau ingin manarik hati kaum Yahudi itu dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Mereka juga menghormati tanah baitul Muqadas sebagai kota yang disucikan dan menjadi qiblat bagi mereka dalam sembahyangnya.

Meskipun demikian, dan apabila hal itu benar adanya, didalam hati Rasulullah sendiri sebenarnya mengharapkan agar qiblat umat Islam segera diubah menghadap KA’BAH. Hubungan antara umat nabi Ismail merenovasi Ka’bah. Sedangkan kaum Yahudi lebih dekat hubunganya dengan Baitul Maqdis, terutama ketika Nabi Musa dan yahudi (bani Israil) diselamatkan Allah dari cengkeraman tangan Fir’aun di Mesir.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!