(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Masjid Bilal adalah salah satu objek ziarah wisata dan city tour di Kota Madinah yang tidak boleh terlewatkan. Jaraknya sangat dekat dengan masjid nabawi, hanya sekitar 560 meter, cukup ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Jika di Indonesia kita mengenal istilah Bilal atau Muadzin, seseorang yang dipercaya sebagai ta’mir masjid yang mengumandangkan adzan, maka sejarah nama “Bilal” dimulai dari tempat ini. Apa dan bagaimana kisah Sang Legenda Muadzin pertama di Dunia ini. Simak kisah selanjutnya.

masjid bilal bin rabah

Bilal Bin Rabah ialah Muadzin Rasulullah SAW sekaligus sebagai Pelantun Adzan Pertama. Kisah hidupnya memiliki kisah keteladanan  tentang suatu perjuangan menjaga aqidah, meski harus bertaruh nyawa. Sebuah cerita yang tidak bakal pernah bosan di tuturkan, diulang-ulang di sepanjang  generasi.

Bilal sendiri lahir di wilayah as-Sarah pada 43 tahun sebelum hijriyaah. Ayahanda Beliau memiliki nama Rabah, sementara ibunda mempunyai nama Hamamah, seorang budak perempuan berkulit hitam yang bermukim di kota Mekkah. Karena ibunya itu, beberapa orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra perempuan hitam).

Bilal tumbuh dan besar di kawasan kota Ummul Qura, yang kini masuk di Provinsi Mekkah. Dia di takdirkan sebagai seorang budak milik kaum bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Budak Bilal diwariskan untuk tokoh pembesar Kaum Kafir Quraisyi Umayyah bin Khalaf

Ketika Muhammad SAW mulai menerima wahyu Ke-Rasul-an yang di dapat di GUA HIRA, Bilal termasuk golongan orang – orang pertama  yang diberi Anugerah Hidayah masuk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di muka bumi ini Cuma ada sejumlah orang yang sudah memeluknya, yang kemudian disebut sebagai  golongan As-Sabiqun al-Awwalun

keteguhan iman bilal bin rabah

Meskipun berat siksaan yang harus “dinikmati” Bilal dari  orang-orang musyrik, Namun Bilal sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah tersebut dengan kesabaran yang tak kan sanggup menimpa oleh siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman hampir setiap saat mampir mendera tubuhnya.

Orang-orang yang telah memeluk Islam, sebut saja Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih mempunyai keluarga dan suku yang siap membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak semaca Bilal tidak mempunyai siapa pun, sampai-sampai orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan.

Siksaan demi siksaan dialami oleh Bilal bin Rabah oleh pemuka kaum Quraisy tanpa henti. Biasanya, bilamana matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekkah layaknya sebuah lading perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy tersebut mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu. Mereka memakaikan baju besi pada mereka dan tidak mempedulikan kulit mereka yang terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik.

Ternyata tak cukup  sampai di situ, orang-orang Quraisy tersebut mencambuk tubuh mereka seraya memaksa mereka mencerca dan memaki Muhammad SAW. Adakalanya, ketika siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam dari golongan buda yang tertindas tersebut semakin lemah tak kuasa menahan siksaan, mereka mengikuti keinginan orang-orang Quraisy yang menganiaya mereka secara lahir, sedangkan hatinya tetap pasrah untuk Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal RA. Baginya, penderitaan tersebut masih terasa terlalu enteng jika dikomparasikan dengan kecintaannya untuk Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Suatu ketika, Abu Bakar RA  mengemukakan penawaran untuk Umayyah bin Khalaf untuk melakukan pembelian Bilal darinya. Umayyah pun mendongkrak harga budak berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak bakal mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun mesti merogoh  sembilan uqiyah emas (1 uqiyah emas = 29,75 gram emas).

terompah bilal bin rabah

Setelah Rasulullah SAW mendapatkan perintah guna HIJRAH RASULULLAH KE MADINAH, mereka segera berhijrah, Bilal RA pun tak mau ketinggalan. Setibanya di Madinah, Bilal bertempat tinggal bersama dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Kini di Madinah Bilal jauh mendapatkan ketenangan  dan jauh pula dari cakupan orang-orang Quraisy yang sering menyiksanya.

Kini, ia melimpahkan segenap tenaga dan perhatiannya guna menyertai Rasulullah layaknya seorang kekasih. Bilal selalu mengikuti jejak Rasulullah SAW ke mana juga Beliau pergi. Dalam suatu hadits dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah bermimpi mendengar suara terompah Bilal di surga. Ketika Rasulullah SAW selesai mendirikan Masjid Nabawi di Madinah dan saat yariat adzan diperintahkan, maka Bilal lah orang yang pertama kali diberikan kehormatan oleh Rasulullah guna mengumandangkannya. Ia dipilih sebab Allah menganugrahkan kepada Bilal suara yang paling merdu.

Sejak saat itu Bilal ditunjuk sebagai Muadzin dalam sejarah Islam. Bilal mengumdangkan Adzan saat telah memasuki waktu sholat, dan Lalu melantunkan iqamat saat Bilal melihat Rasulullah SAW keluar dari kediaman Beliau.

Bilal Bin Rabah

Ketika Rasulullah SAW menaklukkan kota Mekkah, Bilal merupakan salah satu Sahabat Rasulullah yang mendapat kesempatan  Masuk ke Ka’bah, bareng dengan Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah SAW.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di dekat Rasulullah SAW, beberapa diantaranya adalah  orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam ketika itu. Pada moment yang paling bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah supaya naik ke atap Ka’bah guna mengumandangkan seruan Adzan dari sana. Dengan penuh percaya diri Bilal pun mengemban amanat dari Rasulullah SAW, Suara nya pun lantang mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Kisah Kesedihan Bilal Bin Rabah

Sesaat sesudah Rasulullah SAW mengembuskan nafas terakhir Nya, masa-masa shalat tiba. Seperti biasa, Bilal pun tetap mencoba tega[ berdiri guna mengumandangkan azan. Sedangkan jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal hingga pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku menyatakan bahwa Muhammad ialah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti.

Ia tidak mampu melanjutkan suaranya lagi. Kaum muslimin yang muncul di sana tak kuasa menyeka air mata, maka meledaklah suara isak tangis yang menciptakan suasana semakin mengharu biru.

masjid bilal

Sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal Cuma  sanggup mengumandangkan azan sekitar tiga hari. Setiap sampai untuk kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku menyatakan bahwa Muhammad ialah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin penduduk kota madinah yang mendengar suara Adzan Bilal pun larut dalam tangisan pilu.

Tak kuasa menahan kesedihan yang medalam, Bilal pun memohon untuk Abu Bakar, yang saat itu bertindak sebagai khalifah menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin. Seraya memohon  supaya diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, sebab tidak mampu melakukannya. Di samping itu, Bilal pun meminta izin kepadanya untuk tidak tinggal lagi di kota Madinah. Ia beralasan ingin berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke distrik Syam.

Awalnya, Abu Bakar ash-Shiddiq merasa ragu guna mengabulkan permohonan Bilal yang meminta agar ia diperbolehkan keluar dari kota Madinah, tetapi Bilal tetap mendesaknya sambil berkata, “Jika dulu Engaku membeliku guna kepentingan dirimu sendiri, maka Engkau berhak menahanku, namun jika Engkau  telah memerdekakanku sebab Allah, maka biarkanlah aku bebas mengarah kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu guna Allah, dan aku memerdekakanmu pun karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak bakal pernah mengumandangkan azan guna siapa pun sesudah Rasulullah SAW wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bareng pasukan awal  yang dikirim oleh Abu Bakar untuk berjihad. Ia bermukim di wilayah Darayya yang terletak tidak terlampau jauh dari kota Damaskus.

Kembali Ke Madinah dan Adzan yang Tak Mampu Diselesaikan Nya

Lama Bilal Ra tak mendatangi Madinah, hingga pada sebuah malam, Nabi Rasulullah SAW muncul dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal  jafa’? Hai Bilal, kenapa anda tak mengunjungiku? Kenapa begini?.” Bilal juga bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, guna berziarah ke Makam Rasulullah. Sekian tahun setelah dia meninggalkan Kota Nabi.

masjid bilal bin rabah madinah

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah SAW, layaknya kerinduan yang teramat dalam pada sang kekasih. Saat itu, ia dihampiri oleh Dua orang pemuda yang sudah beranjak dewasa. Bilal pun langsung mendekap erat, Keduanya ialah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang makin beranjak tua mendekap kedua cucu Rasulullah SAWitu.

Salah satu dari keduanya berbicara kepada Bilal RA.: “Paman, maukah anda sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami hendak mengenang kakek kami.”

Ketika itu, Umar bin Khattab yang sudah jadi Khalifah yang  sedang menyaksikan momentum bersejarah sekaligus dramatis itu pun memohon Bilal guna mengumandangkan adzan, walau sekali saja.

Bilal pun tak kuasa menolak permintaan itu. Waktu shalat pun tiba, dia naik di lokasi dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, seketika seluruh Madinah senyap, segala kegiatan terhenti, seluruh umat muslim terkejut, suara yang sudah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, tersebut telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, semua isi kota madinah berlarian ke arah suara tersebut sembari berteriak, bahkan semua gadis dalam pingitan mereka juga keluar. Dan ketika bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang paling memilukan.

Semua menangis, teringat waktu indah ketika Rasulullah SAW masih bersama mereka. Terlihat Umar bin Khattab yang sangat keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri juga tak mampu meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu, madinah memperingati masa ketika Rasulullah orang yang paling mereka cintai masih bersama. Tak ada manusia yang begitu agung, kecintaan mereka tak mampu membalas kasih Sayang Nabi SAW.

Dan adzan itu merupakan adzan yang tak dapat dirampungkan hingga kepergian Bilal Bin Rabah, Pelantun Adzan Pertama dalam sejarah Islam.  Inilah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal RA, sejak ia meninggalkan kota Madinah. Dia tak pernah mau lagi mengumandangkan adzan, karena kesedihan yang paling mengoyak-ngoyak hatinya. Mengingatkan nya kepada seseorang yang karenanya dirinya, derajatnya terangkat begitu tinggi.

kisah masjid bilal bin rabah

Suara Bilal membangunkan segenap kenangan dan kecintaan mereka teruntuk masa – masa terindah kehidupan yang dilalui di Madinah ketika Rasulullah SAW masih hidup. Bilalpun kembali ke negeri asalnya dan tetap bermukim di Damaskus sampai ia wafat.

Meskipun begitu untuk memperingati jasa dan cerita perjuangan Bilal bin Rabbah, maka didirikan Masjid Bilal yang konon berdiri di tapak bekas Kediaman Beliau di Madinah.

 

 

Be Sociable, Share!