(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Rasulullah lahir di Makkah, tumbuh besar serta dijaga dan diberikan wahyu oleh Allah melalui Malaikat Jibril di Makkah. Rasulullah diutus sewaktu berusia empat puluh tahun. Tiga belas tahun kemudian, Beliau menghabiskan waktunya untuk berdakwah di Makkah, dan sepuluh tahun berikutnya Beliau hijrah untuk berdakwah di Madinah.

hijrah

Dalam berdakwah di Makkah selama 13 tahun itu, tak banyak orang yang dibuka hatinya oleh Allah untuk beriman kepada beliau. Islam kemudian berjaya dan maju besar di Madinah hingga mnenyebar ke seluruh penjuru dunia seperti sekarang ini.

Hijrah, itulah yang menjadi titik tolak berkembangnya islam. Kejadian bagaimana Rasulullah bisa dengan aman keluar dari rumah beliau, merupakan suatu keajaiban dan mukjizat yang diberikan Allah untuk Rasulullah. Setelah beberapa orang pindah ke MADINAH , saat disana sudah ada beberapa orang  yang berjanji dalam ‘Baiat Aqabah’, orang-orang kafir Quraisy merencanakan untuk membunuh Rasulullah. Akhirnya , malam itu Rasulullah tidak tidur di kamar tidurnya, melainkan Ali bin Abi Thalib yang disuruh menempati tempat tidurnya.

Orang-orang kafir sudah mengepung rumah beliau dan menjaga pintu rumahnya. Rasulullah kemudian mengambil segenggam debu, lalu ditaburkanlah debu itu kepada orang-orang Quraisy yang sudah berjaga didepan pintu. Lalu beliau membaca ayat berikut ini.

Seketika itu, Allah menutup mata orang-orang kafir tersebut, sehingga Rasulullah pun kemudian dengan leluasa keluar dari pintu rumahnya tanpa diketahui oleh mereka. Paginya, mereka melihat Ali bin Abi Thalib bangun dari tempat tidur Rasulullah. Sementara itu, Rasulullah sendiri sudah dalam perjalanan hijrah ke YATSRIB (Madinah).

Kejadian yang unik dan menarik yang terjadi sewaktu hijrah adalah sikap sahabat Abu Bakar yang menemani perjalanan Rasulullah hijrah ke Madinah. Ditengah-tengah perjalanan sahabat Abu Bakar terkadang berjalan di depan Rasulullah. Terkadang Abu Bakar mundur di belakang beliau, terkadang berjalan di sebelah kanannya, terkadang sebelah kiri beliau. Jika dibayangkan, Abu Bakar mungkin seperti ‘centeng’atau bodyguard yang dengan penuh kesigapan menjaga majikannya. Melihat sikap Abu Bakar yang aneh seperti itu, beliau kemudian bertanya kepada Abu Bakar:

Apa-apaan ini wahai Abu Bakar? Aku melihat mu tidak seperti ini biasanya.”(HR. Al-baihaqi)

Menjawab pertanyaan dan rasa heran Rasulullah ini, Abu Bakar berkata,”Ketika aku berpikir harus menjaga engkau,aku berjalan didepan mu,ketika aku berpikir harus mengikuti dan belajar dari engkau,aku berjalan dibelakangmu,dan ketika aku berpikir engkau dalam keadaan yang tidak aman dari sebelah kiri dan kanan maka aku pun berjalan di sebelah kiri dan kananmu.”

Seorang sahabat Rasulullah yang bernama Tufail bin Amar ad-Dausi berhijrah untuk menyusul Rasulullah yang lebih dahulu berhijrah ke Madinah. Tufail pergi bersama seorang laki-laki dari kaumnya. Setelah keduanya sampai di Madinah, laki-laki itu kurang senang tinggal disana, dan akhirnya diapun sakit dan tidak sabar hingga terus mengeluhkan sakitnya yang semakin parah. Ringkasnya, akhirnya laki-laki pun tidak tahan dan kemudian mengambil ujung anak panah yang tajam, lalu dia gunakan untuk memotong urat nadinya. Kedua tangannya pun tak urung luka parah dan darahpun mengalir dari kedua tanganya.

Laki-laki itupun akhirnya meninggal dunia karena bunuh diri. Suatu ketika, Tufail bin Amar di dalam tidurnya bermimpi bertemu dengan laki-laki temannya itu. Namun, yang aneh, kondisi laki-laki itu masih baik, hanya saja kedua tangannya masih ditutup olehnya. Tufail bin Amar pun akhirnya bertanya kepada teman terseb ut,”apa yang dilakukan Rabbmu  kepadamu?’ ‘Allah mengampuniku karena aku telah berhijrah bergabung dengan Rasulullah,’jawab laki-laki itu.

Tufail bertanya lagi,’Lalu mengapa dengan tanganmu yang masih kau tutup itu?’ Laki-laki itu menjawab,’Tanganku tidak dikembalikan seperti semula karena aku telah memotongnya di dunia.’ Mimpi Tufail bertemu temannya tersebut kemudian diceritakan kepada Rasulullah, kemudian beliau mendoakan laki-laki itu:

“Ya Allah untuk kedua tangannya (laki-laki itu) ampunilah dia.”(HR. Muslim,al-Baihaqi, Imam Ahmad, dan laiin-lain)

Betapa besar keutamaan hijrah hingga pada akhirnya dapat menghapus dosa besar seperti dosanya orang yang membunuh orang lain atu bunuh diri. Padahal Allah menyatakan dengan jelas,balasan orang yang membunuh, adalah neraka, seperti dalam firman-Nya berikut ini.

Orang yang melakukan dosa besar dengan bunuh diri atau membunuh orang islam tanpa alasan yang dibenarkan syariat, bukanlah seorang yang kafir atau keluar dari agama islam. Jika bertobat sebelum meninggal, maka dirinya akan diselamatkan dari siksa neraka, atas kehendak Allah. Kisah Tufail dan temannya ini menjadi contoh bagi yang diselamatkan oleh Allah dari keabadian neraka.

Be Sociable, Share!