Keajaiban Do’a Rasulullah untuk Kota Madinah

Keajaiban Do’a Rasulullah untuk Kota Madinah sampai saat ini terus dirasakan oleh para jamaah haji dan umroh yang berziarah ke kota Rasulullah tersebut. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa pasca Hijrah Rasulullah dari kota Makkah menuju Madinah.

Panas di kota Madinah begitu dirasakan umat islam yang baru saja hijrah ke sana. Penduduk Makkah yang sudah terbiasa dengan panasnya kota Makkah ternyata masih merasakan kepanasan di Madinah, tempat barunya itu.

Sebab derajat di Madinah lebih tinggi dibandingkan Makkah, pada waktu awal-awal Rasulullah berhijrah ke Madinah. Tidaklah heran, jika sejumlah sahabat yang menyusul hijrah ke Madinah banyak yang mengeluhkan tingginya derajat panas kota madinah yang saat itu masih bernama YATSRIB.

Aisyah menceritakan bahwa ayahnya, Abu Bakar ketika sampai di Madinah sewaktu hijrah menderita sakit panas, hal ini tak mengherankan. Bilal bin Rabah, yang terbiasa dengan panas sewaktu menjadi budak Umayyah di Makkah saja, juga menderita sakit panas. Jika pagi datang, Abu Bakar berkata,”setiap orang memasuki waktu paginya sementara kematian lebih dekat dengannya dibandingkan ikat sandal kakinya.

Aisyah menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang dialami Bilal dan ayahnya Abu Bakar, lalu Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, cintakanlah kami kepada Madinah sebagaimana cinta kami kepada makkah atau bahkan melebihi. Jadikanlah ia (Madinah) kota yang sehat dan berkahilah mud (takaran) dan sha’ nya. Dan pindahlah panasnya lalu jadikanlah di daerah juhfah.”

(HR. Iman Ahmad, al-Baihaqi, dan lain-lain).

Doa Rasulullah untuk Madinah lain nya yang dipanjatkan Rasulullah antara lain adalah :

“Ya Allah, berkahilah kepada mereka dalam timbangannya, dan berkahilah untuk mereka dalam takaran (sha’) dan timbangan (mud) mereka”

(HR. Bukhari Muslim)

Salah satu kebiasaan buruk  yang sudah terkenal  dari penduduk Yatsrib adalah kebiasaan mereka mengurangi timbangan, mencuri takaran dan sejenisnya. Bahkan, diceritakan, bahwa tidak ada kelompok atau penduduk suatu daerah yang curang dalam hal timbangan dan takaran atau ukuran, melebihi curnagnya penduduk Yatsrib waktu itu. Oleh karena itu, surat pertama yang diturunkan di kota Madinah adalah surat al-Muthaffifin (83) ayat 1-4 :

Berkat doa Rasulullah dan juga teguran dari Allah melalui ayat ini, pada akhirnya para penduduk Madinah berubah menjadi penduduk dan umat yang sangat memperhatiakan masalah timbangan, ukuran, dan takaran. Komoditas yang diukur atau ditimbang dengan timbangan atau ukuran Madinah, akan mendapat berkah doa Rasulullah. Kini, di zaman sekarang, kita bisa membuktikan keajaiban doa Rasulullah bagi orang-orang Madinah al-Munawarah.

Doa lain yang diriwayatklan oleh Imam Malik dalam kitab Muwatta’ adalah doa Rasulullah untuk Kota Madinah berikut ini:

“Ya Allah berkahilah bagi kami dalam buah kami dan berkahilah bagi kami kota (Madinah) kami, berkahilah bagi kami dalam sha’(takaran) kami. Berkahilah bagi kami dalam takaran(Mud) kami. Ya Allah sesungguhnya Ibrahim hamba-Mu, dan nabi-Mu, dan sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan nabi-Mu. Sesungguhnya dia (Ibrahim) berdoa kepada-Mu untuk Makkah dan aku berdoa kepada-Mu untuk Madinah, seperti doa yang dip[anjatkan Ibrahim untuk Makkah dan disertai dengan sesamanya.

(HR. Bukhari Muslim,Imam Malik,ath-Thabarani dan lain-lain).

Menelisik latar belakang do’a Rasulullah untuk Kota Madinah dengan doa ini, dapat dilihat dari riwayat yang diceritakan Abu Hurairah, bahwa ketiak penduduk ahli Madinah mulai melihat buah-buahan dari tanaman mereka sudah siap dipanen untuk pertama kalinya, maka mereka bergegas membawa nuah-buahan hasil panen pertama mereka kepada Rasulullah. Beliau kemudian mengambil sebagian dari buah itu dan berdoa kepada Allah. Selanjutnya, Rasulullah kemudian memanggil anak-anak yang paling kecil diantara mereka dan buah yang diambil beliau pun diberikan kepada anak tersebut.

Doa Rasulullah untuk Kota Madinah  ini dapat kita rasakan hingga sekarang. Kota Madinah tak kalah mewahnya dengan kota Makkah. Buah-buahan yang ada di Makkah juga dengan mudah kita dapatkan di Madinah. Madinah pun tak kalah dengan Makkah dalam hal menjadi kota yang dicintai oleh manusia terutama umat islam di seluruh penjuru dunia. Madinah yang telah didoakan Rasulullah itu, kini menjadi daya tarik dan magnet yang tak kalah dengan makkah yang telah didoakan Nabi Ibrahim itu.

Bahkan Rasulullah sendiri pernah berdoa memohon kepada Allah agar Madinah dijadikan kota yang penuh berkah,melebihi dua kali lipat dari kota Makkah. Sahabat Anas bin Malik menceritakan doa Rasulullah untuk kota Madinah berikut ini.

“Ya Allah, jadikanlah di kota Madinah dua kelipatan dari berkah yang ada di kota Makkah.”

(HR. Imam Ahmad, Arh-Thabarani dan lain-lain).

Do’a Rasulullah untuk Kota Madinah sebagai kota yang diberkahi secara khusus, Rasulullah melakukan wudhu sebagaimana ketika beliau hendak melakukan shalat, kemudian beliau menghadap kiblat dan baru berdoa. Jika ini menunjukkan sesuatu, maka tak lain adalahkarena begitu perhatian dan seriusnya Rasulullah dalam mencintai Madinah agar umatnya merasakan hal yang sama.

Do’a – do’a Rasulullah untuk Kota Madninah itu pun dikabulkan Allah menjadi suatu yang menakjubkan. Ka’bah di MASJIDIL HARAM memang meninggalkan rasa rindu yang mendalam pada setiap orang yang pernah melihatnya secara langsung. Namun, sosok Rasulullah yang  terbaring di dalam Masjid Nabawi pun, menjadi daya tarik yang membuncahkan rindu. Rindu kita untuk selalu ingin bisa berkunjung ke kedua tanah suci itu, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.

 

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!