Hudaibiyah Tempat Miqat Umroh Sederhana dengan Berjuta Makna

Terletak sekitar 26 kilometer dari Masjidil Haram, Hudaibiyah merupakan salah satu dari beberapa tempat yang dipergunakan untuk Miqat Umroh yang sangat sederhana. Dikatakan sederhana karena fisik bangunan ini berbeda dengan bangunan miqat lain, seperti Masjid Tan’im dan Masjid Bir Ali. Walaupun sederhana, namun bangunan masjid yang luasnya tidak lebih dari 1000 meter persegi ini memiliki berjuta makna. Khususnya dalam perkembangan sejarah Islam di Kota suci Makkah.

Baca juga : Tan’im Miqat Umroh Termurah Mukimin Kota Makkah

Masjid ini Nampak tidak terlalu luas, tidak seperti masjid miqat bir Ali yang memiliki ratusan toilet dan tempat berganti pakaian. Masjid ini hanya memiliki empat kamar mandi dan tempat wudhu yang sangat kecil. Keberadaan fasilitas parkir pun tidak seluas masjid Tan’im maupun Masjid Bir Ali di Madinah.

Kota ini terinspirasi dari nama sebuah sumur Asy-Syumaisi. Dan dinamakan Hudaibiyah karena berasal dari nama seorang laki – laki yang menggali sumur di tempat tersebut. Kota Hudaibiyah terletak di kawasan perbatasan Tanah Haram yang berjarak dua puluh enam kilo dari Masjidil Haram. Kota ini merupakan pintu masuk bagi umat muslim dalam memenangkan Fathul Makkah atau Pembebasan Kota Mekah.

Penamaan kota ini dilakukan untuk mengingat perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Rasululah SAW dengan paran kafir Quraisy. Kota ini merupakan salah satu kota yang penting dalam sejarah keislaman. Untuk itulah mengapa kota ini selalu menjadi tujuan jutaan jamaah umroh dan haji setiap tahunnya.

Salah satu tempat bersejarah di Kota Mekah ini terdiri dari daerah dengan padang pasir yang terhampar luas. Daerah ini juga merupakan kawasan pengembalaan unta dan kambing. Bahkan pemerintah Arab Saudi sedang melakukan pengembangan intensif pada kawasan ini agar menjadi sentra peternakan kambing dan unta dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Di daerah peternakan di tengah padang pasir ini, jamaah bisa melihat proses pemerahan susu unta dan juga diperbolehkan untuk merasakan susu khas hewan berpunuk tersebut.

Sejarah Kota Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah

Peristiwa ini berawal ketika pada Dzulqaidah 6 Hijriah ketika Nabi Muhammad SAW akan melaksanakan umrah bersama seribu lima ratus umat muslim lainnya dihadang oleh kaum kafir Quraisy. Utsman bin Affan yang dikirim oleh Rasulullah untuk berdiplomasi malah ditangkap.

Penangkapan Utsman bin Affan menyulut sumpah dari kaum muslimin untuk mengobarkan perang. Sumpah untuk memerangi kafir Quraisy tersebut terjadi di bawah sebuah pohon di tepi telaga. Karena kesungguhan tersebut membuat kaum Quraisy gentar dan akhirnya membebaskan Utsman bin Affan dan mengadakan negosiasi yang menghasilkan perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah yang sejatinya berlaku untuk 10 tahun, ternyata dilanggar oleh Quraisy. Namun hal inilah yang menyebabkan kaum Muslim bisa membalasnya dengan penaklukan Mekkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M atau 8 Hijriyah. Hanya berjarak 2 tahun dari perjanjian Hudaibiyah

Ziarah ke Hubaidiyah

Di daerah ini terdapat  masjid tua yang sudah tidak utuh lagi. Masjid dengan ketebalan tembok satu hasta dan tinggi mencapai tiga meter ini sudah sangat tua, kira-kira 1400 tahun. Masjid ini hanya menyisakan dinding-dindingnya yang tersusun dari batu gunung, tanpa atap. hanya tinggal puing-puingnya saja. Sedangkan bagian mihrab masjid malah masih utuh.

Masjid tua tersebut sudah tidak lagi digunakan semenjak dibangunnya masjid baru. Banyak yang tidak mengetahui bahwa puing-puing yang dulunya adalah masjid penting ini adalah saksi saat diadakan perjanjian dengan kaum musyrikin Mekkah. Sumpah setia para sahabat kepada Rasulullah tersebut dikenal dengan Baiturridwan.

Masjid baru sudah dibangun di sebelah masjid tua dan sering digunakan untuk miqot umroh oleh para peziarah. Air wudhu dari masjid baru ini berasal dari sebuah sumur tua yang ada di sebelah kiri mimbar masjid. Air sumur ini adalah air asin karena Hubaidiyah memang tidak memiliki sumber air tawar.

Karena ketidaktahuan serta kecerobohan banyak jamaah, maka puing-puing masjid tua banyak terdapat coretan yang berisi nama keluarga. Biasanya jamaah yang melakukan hal ini memiliki maksud agar nama keluarga yang tertulis dapat terpanggil datang ke Tanah Suci. Untuk itulah perlunya mutawif atau pemandu yang baik.

Syakira Wisata menyediakan jasa pemandu yang akan mendampingi jamaah saat melakukan umroh dan haji agar tidak melakukan kesalahan serupa baik di masjid ini maupun di tempat – tempat bersejarah yang lain. Para mutawif yang berpengalaman, bijak dan sabar akan menceritakan kisah penting Hubaidiyah dan meluruskan setiap kesalahan. Hal ini dilakukan dengan maksud agar tidak terjadi lagi hal demikian yang merusak keindahan masjid.

Syakira Wisata juga menyediakan beragam paket umroh dan haji yang dapat Anda pilih sesuai dengan kebutuhan Anda. Anda dapat menghubungi nomor customer service yang tersedia untuk mendapatkan informasi maupun  pendaftaran umroh dan haji yang diperlukan.

Be Sociable, Share!
error: Content is protected !!