(024) 672 4321 umroh@syakirawisata.com

Talang emas Ka’bah atau Mizab merupakan saluran air di tembok atas Ka’bah dan berada di atas Hijr Ismail yang dibuat dengan tujuan memperlancar pembuangan air dari atap saat hujan atau waktu pencucian Ka’bah.

Dalam beberapa referensi dijelaskan jika talang emas Ka’bah merupakan bangunan yang dibuat oleh kaum Quraisy di tahun ke-35 setelah Nabi Muhammad lahir atau 5 tahun ketika Nabi Muhammad belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Saat ini jika hujan turun banyak jamaah umroh dan haji berebut “ngalap berkah” di bawah Talang emas Ka’bah

Sejarah Talang Emas Ka’bah

Dahulu bangunan Ka’bah adalah terbuka tidak seperti sekarang. Kemudian oleh kaum Quraisy diadakan pembangunan dengan menutup atap Ka’bah dengan dua lapis atap. Pada atap bagian atas berlapis dengan marmer putih yang dikelilingi pagar tembok yang menyatu dengan tembok padag Ka’bah dengan tinggi 80 cm kemudian di atasnya menancap kayu-kayu kokoh sebagai tempat mengikat tali Kiswah.

Diatap juga ada pintu dari besi baja dengan ukuran 1,27 m x 1 m untuk memudahkan petugas naik turun ke atas guna mencuci dan membersihkan Ka’bah. Talang Emas Ka’bah yang sekarang ini adalah yang ke-12 semenjak pertama dibangun oleh kaum Quraisy.

Talang Emas Ka’bah dibangun oleh kesultanan Turki Utsmani yaitu Sultan Abdul Majid Khan di Konstantinopel / Istanbul, kemudian disempurnakan oleh Raja Fadh bin Abdul Aziz dengan penambahan paku-paku di atasnya. Sekarang ini talang emas Ka’bah mempunyai panjang 1,96 meter, tinggi 23 cm, dan memiliki lebar 26 cm  bahan tembaga dilapisi emas, oleh karena itu disebutlah talang emas Ka’bah.

Bagi jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji maupun umroh, dan berada di sekitar Ka’bah, maka Talang Emas Ka’bah ada di Hijir Ismail. Keutamaan menurut ulama’ salaf yaitu jika berdoa di bawah Mizab merupakan doa yang mustajabah.

Baca Juga : Ingin Sholat di Dalam Ka’bah?? Sholatlah di Hijir Ismal

Alkisah dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad – sanad keilmuannya) oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah yang juga murid Sayyid ‘Alwi al-Maliki dan termasuk salah seorang yang menyaksikan kejadian “ngalap berkah” itu menceritakan, ketika tiba – tiba hujan lebat turun, talang emas yang memang difungsikan sebagai saluran air mengalirkan air hujan dengan derasnya.

Melihat air begitu deras kaum muslimin yang berada di sekitar ka’bah segera berhampuran lari menuju saluran talang emas ka’bah dan kemudian mengambil air yang jatuh dari nya. Air itupun sengaja di guyurkan untuk membasahi baju dan sekujur tubuh mereka. Tentu saja dengan tujuan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat hal tersebut para polisi penjaga masjid sontak mengusir mereka, karena menganggap hal tersebut sebuah kemusyrikan yang nyata. Mendapat pengusiran tersebut, kaum mukminin  itu pun segera membubarkan diri dan pergi mengadu kepada Sayyid ‘Alwi al-Maliki. Seorang ulama besar Masjidil Haram  yang saat itu sedang mengajar murid-muridnya di halaqah tempat beliau mengajar.

Bukan nya melarang, namun Sayyid ‘Alwi al-Maliki malah memberikan legitimasi dan fatwa atas tindakan kaum muslimin yang “ngalap berkah” dari air hujan yang turun di Talang emas Ka’bah.

Dengan penuh sopan santun dan etika sebagai seorang ulama besar Masjidl Haram yang disegani, Sayyid ‘Alwi memberi penjelasan bahwa : “Benar (air yang turun dari talang emas itu membawa keberkahan). Bukan Cuma satu, Bahkan air hujan yang turun tersebut memiliki dua berkah.” Mendengar jawaban yang lemah lembut tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di seorang ulama di Masjidil Haram pun bertanya : “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan: (QS. 50 : 9).

Dan Beliau juga mengingatkan akan Firman Allah SWT mengenai Ka’bah: (QS. Ali Imran ayat 96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air (talang emas) di atas Ka’bah itu mempunyai sekaligus dua buah keberkahan, yaitu berkah air yang turun dari langit dan tentu saja keberkahan yang terdapat pada Baitullah itu sendiri.”

Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi, para muslimin ini pun bangkit dan kembali membasahi pakaiannya dan mengambil air untuk diminum. Mendengar fatwa Sayyid ‘Alwi al-Maliki, para polisi itu akhirnya pergi meninggalkan kerumunan jamaah yang sedang “ngalap berkah” di Masjidil Haram dengan perasaan malu.

Be Sociable, Share!